Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu
masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu. Nama
saya sebut saja Iwan dan berasal dari Jakarta dan waktu itu saya kos di
dekat daerah Dago. Tempat kosnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu
itu berumur sekitar 28 tahun. Suaminya
sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan dia belum sempat
dikaruniai anak. Untuk membiayai kehidupan sehari-harinya dia bekerja di
salah satu bank swasta di Bandung. Sebelumnya saya kos di daerah
Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari
tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang
teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya
datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak
ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum
karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung
akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat
saudara sepupunya. Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan
wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan
ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama
saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan
luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup
tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu
untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta
membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian
dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering
digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai
beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini
sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian- pakaian
dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah. Di rumaHPun Mbak Rita
cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah
walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju
tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya
sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar
mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu
besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan
kemulusan pahanya terlihat jelas. Suatu pagi waktu saya sedang sarapan
Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di
halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan
bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah
oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan
putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia
sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda
saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, "Hayo,
lihat apa kamu?" Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Ngga lihat
apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?" Mbak Rita
balik bertanya, "Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?". "Ya
suka dong Mbak, namanya juga laki-laki". Waktu itu saya malu sekali dan
mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang
sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri
pandang ke arah dadanya. Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di
ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya
yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia
berkata kepada saya. "Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin
karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?" Dengan spontan saya
berkata, "Boleh Mbak. Di mana?" "Ke kamar Mbak aja deh", katanya.
Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang
karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba
mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya
dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian
mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya
ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil.
Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju
tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya
dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string
berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang
lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya
indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang
berwarna coklat kemerahan. "Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?"
Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya
melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya
saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada
internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan
saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan
baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya
ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu
saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar,
dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana
dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan
menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya
dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia
terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan
lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya.
Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh
kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya.
Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana
dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang. Saya minta Mbak Rita
membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di
dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan
jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar
menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta
saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar
terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan
seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan
cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana
pendek dan celana dalamku. "Kamu juga sudah terangsang yah Wan?". "Iya
dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini", kataku sambil tertawa.
Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks
kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan
melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi
kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami
hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali
dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Selang beberapa lama
kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di
ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku
sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan
kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan
yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya
dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan
sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari
kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan
kemaluannya. Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan
diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku
lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati
kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku
memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. "Ayo dong Wan, aku sudah tidak
tahan lagi nih". Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan
Mbak Rita berkata, "Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu."
Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan
kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan
pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya
berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata,
sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita
secantik Mbak Rita. Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah
kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian
mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil
yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan
gaya-gaya lainnya. Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak
saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal
yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya
di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang.
Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari
setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di
ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia
memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah
lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas
melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami
menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak
Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita
langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya. Saya juga mulai
sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya
seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak
dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga
tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua
dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin
ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar
rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia
ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia
menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu
kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa- apa lagi..
Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas
dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.
Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku
tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang
janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu
menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami
akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui. Tamat
Tampilkan postingan dengan label Selingkuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selingkuhan. Tampilkan semua postingan
Ibu Kost Ku Kekasih Ku
Selasa, 18 Desember 2012 | 0 komentar
Continue Reading
Aku dan Mrtua Ku
| 0 komentar
Ini adalah salah satu pengalaman nyata dari
kehidupan sex-ku selama ini. Aku Roy, 32 tahun. Menikah, punya 2 anak.
Istriku sangat cantik. Banyak yang bilang mirip bintang sinetron ternama
saat ini. Kami tinggal di Bandung. Yang akan aku ceritakan adalah
hubunganku dengan mertua aku sendiri. Mertua aku tinggal di kota P,
masih wilayah Jawa Barat. Suatu waktu aku ada tugas kerja ke kota P
tersebut. Aku pergi naik motor. Sesampainya di kota P, aku langsung
menyelesaikan tugas dari kantor. Setelah selesai, aku sengaja singgah
dulu ke rumah mertua untuk istirahat. Sesampai di rumah, mertua
perempuanku datang menyambut. "Kok sendirian Roy? Mana anak istrimu?"
tanya mertuaku. "Saya ada tugas kantor disini, Ma. Jadi mereka tidak
saya ajak. Lagian saya cuma sebentar kok, Ma. Hanya mau numpang mandi
dan istirahat sebentar," jawabku. "O begitu.. Akan mama siapkan makanan
buat kamu," ujar mertuaku. Lalu aku mandi. Setelah itu aku segera ke
meja makan karena sudah sangat lapar. "Papa mana, Ma?" tanyaku. "Papa
lagi ke rumah temannya ngurusin obyekan," jawan mertuaku. "Kamu mau
pulang jam berapa, Roy?" tanya mertuaku. "Agak sorean, Ma. Saya akan
tidur sebentar. Badan pegal hampir 3 jam naik motor dari Bandung,"
kataku. "Kalau begitu ganti baju dulu dong. Nanti kusut kemeja kamu,"
ujar mertuaku sambil bangkit menuju kamarnya. Lalu dia datang lagi
membawa kaos dan kain sarung. "Ini punya Papa, pakailah nanti," kata
mertuaku. "Iya, Ma," kataku sambil terus melanjutkan makan. Mertuaku
berumur 42 tahun. Sangat cantik mirip istriku. Badan ramping, buah dada
besar walau agak turun karena usia. Pantatnya sangat padat. Setelah
berganti pakaian, aku duduk di ruang tamu sambil nonton TV. "Loh katanya
mau tidur?" tanya mertuaku sambil duduk di kursi yang sama tapi agak
berjauhan. "Sebentar lagi. Ma. Masih kenyang," ujarku. Lalu kami nonton
TV tanpa banyak bicara. "Tahukah kamu, Roy.. Bahwa mama sangat senang
dengan kamu?" tanya mertuaku kepadaku memecah kesunyian. "Kenapa, Ma?"
tanyaku. "Dulu sejak pertama kali datang kesini mengantar istrimu
pulang, mama langsung suka kamu. Ganteng, tinggi, sopan, dan ramah,"
kata mertuaku. Aku hanya tersenyum. "Sekarang kamu sudah menikahi anak
mama dan sudah punya anak 2, tapi kamu tetap sama seperti yang dulu..,"
kata mertuaku lagi. "Mama sangat sayang kamu, Roy," kata mertuaku lagi.
"Saya juga sayang mama," ujarku. "Ada satu hal yang ingin mama lakukan,
tapi tidak pernah berani karena takut jadi masalah..," kata mertuaku.
"Apa itu, Ma?" kataku. "Mama ingin memeluk kamu walau sebentar..," ujar
mertuaku sambil menatapku dengan mata sejuk. "Kenapa begitu, Ma?"
tanyaku lagi. "Karena dulu mama sangat suka kamu. Sekarang ditambah lagi
rasa sayang," kata mertuaku. Aku tatap mata mertuaku. Kemudian aku
tersenyum. "Saya yang akan peluk mama sebagai rasa sayang saya ke mama,"
ujarku sambil beringsut mendekati mertuaku sampai badan kami
bersentuhan. Kemudian aku peluk mertuaku erat. Mertuakupun balas memeluk
aku dengan erat sepertinya tidak mau melepas lagi. "Boleh mama cium
kamu Roy? Sebagai tanda sayang?" tanya mertuaku. Aku agak kaget. Aku
lepaskan pelukanku, lalu tersenyum dan mengangguk. Mertuaku tersenyum,
lalu mencium pipi kiri, pipi kanan, kening. Lalu.. Mertuaku menatap
mataku sesaat kemudian mengecup bibirku. Aku sangat kaget. Tapi aku
tetap diam, dan ada sedikit rasa senang akan hal itu. Selang beberapa
detik mertuaku kembali mengecup bibirku.. Dan melumatnya sambil
merangkulkan tangannya ke pundakku. Secara spontan aku membalas ciuman
mertuaku. Kami saling hisap, mainkan lidah.. Nafas mertuaku terdengar
agak cepat. Tangan mertuaku masuk ke dalam kain sarung, lalu menyentuh
kontolku dari luar CD. Tangannya lalu mengusap pelan lalu mulai meremas
kontolku. Kontolku langsung tegang. Tiba-tiba.. Kringg! Krinngg! Bunyi
telepon mengagetkan kami. Kami langsung memisahkan diri. Mertuaku
langsung bangkit menuju telepon. Entah apa yang dibicarakan. Karena
merasa agak bersalah, aku segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu
merebahkan diri di kasur. Terbayang terus peristiwa tadi berciuman
dengan mama mertua sambil merasakan nikmatnya diremas kontol. Tiba-tiba
terdengar pintu diketuk. Kemudian pintu terbuka. Mertuaku masuk. "Sudah
mau tidur, Roy?" tanya mertuaku. "Belum, Ma," ujarku sambil bangkit lalu
duduk di tepi ranjang. Mertuaku juga ikut duduk di sampingku. "Kamu
marah tidak atas kejadian tadi," tanya mertuaku sambil menatap mataku.
Aku tersenyum. "Tidak, Ma. Justru saya senang karena ternyata mama
sangat sayang dengan saya," jawabku. Mertuaku tersenyum lalu memegang
tanganku. "Sebetulnya dari dulu mama memimpikan hal seperti ini, Roy,"
ujar mertuaku. "Tapi karena istrimu dan papamu selalu ada, ya mama hanya
bisa menahan perasaan saja..," ujar mertuaku sambil mencium bibirku.
Akupun segera mebalas ciumannya. Dan sekarang aku mulai berani. Tanganku
mulai meraba buah dada mertuaku dari luar dasternya. Aku meremasnya
perlahanan. Tangan mertuakupun segera melepas kain sarung yang aku
pakai. Tangannya langsung meraba dan meremas kontolku dari luar CD-ku.
Kontolku makin mengeras. Mertuaku merogoh kontolku hingga berdiri tegak.
Sambil tetap berciuman tangannya terus mengocok dan meremas kontolku.
Akupun terus meremas buah dada mertuaku. Tak lama, mertuaku bangkit lalu
melucuti semua pakaiannya. Akupun melakukan hal yang sama. Mertuaku
segera naik ke tempat tidur, dan aku segera menaiki tubuhnya. Aku kecup
bibirnya. "Mama senang kamu datang hari ini, Roy.. Lebih senang lagi
karena ternyata kamu bisa menerima rasa sayang mama kepada kamu..." ujar
mertuaku sambil menciumku. "Saya juga senang karena mama sangat
menyayangi saya. Saua akan menyayangi mama..." kataku sambil memagut
leher mertuaku. Mertuaku mendesah dan menggelinjang merasakan desiran
nikmat. Pagutanku kemudian turun ke buahdada mertuaku. Kujilati dan
gigit- gigit kecil puting susu mertuaku sambil tangan yang satu meremas
buah dada yang lain. "Ohh.. Mmhh.. Mmhh.. Ohh..." desah mertuaku semakin
merangsang gairahku. Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut,
tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku. "Jangan ke bawah, Roy.. Mama malu.
Segera masukkin saja.. Mama sudah tidak tahan..." ujar mertuaku. Aku
tersenyum dan maklum karena mertuaku termasuk orang yang konvensional
dalam masalah sex. Aku buka lebar paha mertuaku, lalu aku arahkan
kontolku ke memek mertua yang sudah basah dan licin. Tangan mertuaku
segera memegang kontolku lalu mengarahkannya ke lubang memeknya. Tak
lama.. Bless.. Kontolku langsung memompa memek mertuaku. Terasa tidak
seret, tapi masih enak rasanya menjepit kontolku.. "Ohh.. Sshh.. Oh,
Roy.. Mmhh..." desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat.
Mertuaku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama,
tiba-tiba mertuaku bergetar lalu tubuhnya agak mengejang. "Oh, Roy..
Mama mau keluarr.. Mmhh..." jerit kecil mertuaku. "Terus setubuhi
mama..." desahnya lagi. Beberapa saat kemudian tubuh mertuaku melemas.
Dia telah mencapai orgasme.. Akupun berhenti sejenak memompa kontolku
tanpa mencabutnya dari memek mertuaku. Memeknya terasa makin licin oleh
air maninya. "Mama belum pernah merasakan nikmat seperti ini, Roy," ujar
mertuaku sambil mengecup bibirku. "Terima kasih, Roy..." ujarnya lagi
sambil tersenyum. Akupun segera mengerakan kontolku menyetubuhi lagi
mertuaku. "Boleh Roy minta sesuatu, Ma?" tanyaku sambil terus memompa
kontolku. "Apa?" ujar mertuaku. "Saya mau setubuhi mama dari belakang.
Boleh?" tanyaku. Mertuaku tersenyum. "Boleh tapi mama tidak mau
nungging. Mama tengkurap saja ya?" ujar mertuaku. "Iya, Ma," ujarku
sambil mencabut kontolku. Mertuaku segera tengkurap sambil sedikit
melebarkan kakinya. "Ayo, Roy," ujar mertuaku. Aku segera masukkan
kontolku ke memek mertuaku dari belakang. Terasa lebih nikmat daripada
masuk lewat depan. Mata mertuaku terpejam, dan sesekali terdengar
desahannya. Akupun terus menikmati rasa nikmat sambil terus memompa
kontolku. Kemudian terasa ada sesuatu rasa yang sangat kuat ingin keluar
dari kontolku. Kupercepat gerakanku menyetubuhi mertuaku. Ketika hampir
mencapai klimaks, aku cabut kontolku, lalu.. Crott! Crott..! Crott! Air
maniku keluar banyak di punggung dan pantat mertuaku. "Ohh.. Enak,
Ma..." kataku. Kugesekkan kontolku ke belahan pantat mertuaku. Selang
beberapa menit setelah kelelahan agak hilang, mertuaku berkata, " Tolong
bersihkan punggung mama, Roy..". "Iya, Ma," ujarku. Lalu aku bersihkan
air maniku di tubuh mertuaku. Setelah berpakaian, lalu kami keluar
kamar. Terlihat wajah mertuaku sangat ceria. Menjelang sore, mertua
lelaki pulang. Aku dan mertua perempuanku bertindak biasa seolah tidak
pernah terjadi apa-apa di antara kami. Setelah makan malam, aku diminta
mertua perempuanku utnuk membawakan semua piring kotor ke dapur. Aku
menurut. Mertua lelaki aku setelah makan malam langsung menuju ruang
televisi dan segera menonton acara kesukaannya. Di dapur, mertuaku
perempuanku langsung menarik tanganku ke sudut dapur lalu menciumku. Aku
membalasnya sambil tanganku langsung memegang selangkangannya kemudian
meraba memeknya. "Nakal kamu. Tapi mama suka," ujar mertuaku sambil
tersenyum. "Nanti Papa kesini, Ma.. Udah, ah Roy takut," ujarku. "Tidak
akan kesini kok, Roy," ujarnya. "Sebelum kamu pulang, mama mau sekali
lagi bersetubuh dengan kamu disini..." ujar mertuaku sambil tangannya
segera meremas kontolku dari luar celana. "Saya juga mau, tapi jangan
disini, Ma.. Bahaya," ujarku. "Ayo dong, Roy.. Mama sudah tidak tahan,"
ujarnya lagi. Tangannya terus meremas kontolku. "Kita ke hotel yuk,
Roy?" ajak mertuaku. Aku mengangguk. Kemudian dengan alasan akan ke
rumah temannya, mertuaku perempuanku meminta ijin pergi diantar olehku.
"Jangan lama-lama ngobrol disana, Ma.. Si Roy kan malam ini mau pulang.
Kasihan nanti dia capek," ujar mertua lelaki. "Iya dong, Pa..." ujar
mertua perempuanku. Kemudian kami naik motor segera pergi mencari hotel.
Setelah selesai registrasi, kami segera masuk ke kamar. Tanpa banyak
cakap, mertuaku langsung memeluk dan menciumku dengan liar. Aku balas
ciumannya.. "Cepat kita lakukan, Roy.. Waktu kita hanya sedikit," ujar
mertuaku sambil melucuti semua pakaiannya. Aku juga demikian. Mertuaku
langsung naik ke kasur, lalu aku menyusul. Tangan mertuaku langsung
menggenggam kontolku dan diarahkan ke memeknya. "Mama kok buru-buru
sih?" tanyaku sambil tersenyum ketika kontolku sudah masuk memeknya.
Lalu aku pompa kontolku perlahan menikmati enaknya memek mertuaku.
"Habisnya mama sudah tidak tahan sejak tadi di rumah, pengen merasakan
kontol kamu lagi," kata mertuaku sambil menggoyang pinggulnya
mengimbangi gerakanku. Selang beberapa belas menit tiba-tiba mertuaku
mendekap aku erat sambil mengerakkan pinggulnya cepat. Kemudian.. "Ahh..
Mmhh.. Enak sayang..." desah mertuaku mencapai puncak orgasmenya.
Badannya melemas. Aku terus memompa kontolku lebih cepat. Terasa lebih
nikmat. Sampai beberapa lama kemudian aku tekan kontolku ke lubang memek
mertuaku dalam-dalam, dan.. Crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar
di dalam memek mertuaku. "Maaf, Ma.. Roy tidak bisa menahan.. Sehingga
keluar di dalam," ujarku sambil memeluk tubuh mertuaku. "Tidak apa-apa,
Roy," jawab mertuaku. "Mama sudah minum obat kok," ujarnya lagi. "Kalo
mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?" tanya
mertuaku. "Bisa saja, Ma.. Kita jalan berdua saja dengan alasan pergi
kemana..." jawabku. Mertuaku tersenyum. "Kita pulang Roy," ujar
mertuaku. Sesampai di rumah, aku langsung bersiap untuk pulang ke
Bandung. Ketika aku memanaskan motorku, mertua perempuan mendekatiku.
Sementara mertua lelaki duduk di beranda. "Hati-hati di jalan ya, Roy,"
ujar mertuaku. "Iya, Ma. Terima kasih," ujarku sambil tersenyum.
"Tengokin mama dong sesering mungkin, Roy," ujar mertuaku sambil
tersenyum penuh arti. "Iya, Ma," ujarku sambil tersenyum pula. Lalu aku
pulang. Sejak saat itu hingga kini aku selalu menyempatkan diri sebulan
sekali untuk datang ke rumah mertuaku, tentu saja setelah aku di-SMS
dahulu oleh mertua perempuanku. Ini adalah kisah nyata kehidupan aku.
TAMAT
Kenikmatan Yang Membingungkan
| 0 komentar
Ketika aku kembali dari kantor, kulihat
istriku sedang mengobrol dengan seorang wanita berumur kira-kira 29
tahunan, di sebelahnya ada gadis umurnya 13 tahun. Setelah kuletakan tas
kantor di kamar tidur aku ikut nimbrung mengobrol dengan istriku dan
tamunya yang aku ketahui wanita itu adalah calon
pembantu di rumah kami, dia seorang janda cerai dengan seorang anak
gadisnya. Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku
agak keberatan jika wanita itu mengajak anaknya untuk bekerja di rumah
kami yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah
kuyakinkan akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak
gadisnya bekerja sebagai pembantu di rumah kami, alasanku karena istriku
sedang sibuknya mengurus bisnis MLM-nya dan karena pernikahan kami yang
sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan, sehingga anak gadis itu bisa
kami anggap sebagai anak kami sendiri. Keesokan harinya sekitar jam 5:00
sore wanita itu dan anak gadisnya telah berada di rumahku untuk
melakukan tugas sebagai pembantu, sebut saja wanita itu Nursyfa dan anak
gadisnya Santi. Karena rajinnya kerja kedua pembantuku itu, maka Santi
kuijinkan untuk meneruskan sekolah atas tanggunganku. Kulihat di
wajahnya tersenyum kegirangan. "Terima kasih Pak, Santi senang sekali
bisa meneruskan sekolah, terima kasih Pak, Bu." "Ya, tapi kamu harus
rajin belajar, dan kalau sudah pulang sekolah kamu harus bantu ibumu,"
kata istriku sambil berpelukan dengan Santi, kulihat di wajah ibunya
Nursyifa pun terlihat keceriaan. Enam bulan berlalu sejak Nursyifa dan
Santi bekerja di rumah kami, aku berbuat mesum dengan Nursyifa sewaktu
istriku pergi keluar kota untuk urusan bisnis MLM-nya. Hari itu hari
Sabtu, malamnya istriku ke Jogja dengan kereta api, karena Sabtu kantor
libur sementara Santi sedang sekolah, aku melihat Nursyifa yang sedang
berdiri di dapur membelakangi aku yang sedang masuk dapur selesai
mencuci mobil. Aku tertegun melihat tubuh Nur yang mengunakan baju
terusan warna hijau muda agak tipis sehingga terbayanglah tali BH dan
celana dalam yang keduanya berwarna hitam menutupi bagian vitalnya.
Pantatnya yang padat dan seksi serta betisnya yang terbungkus kulit
putih dan mulus bentuknya seperti bunting padi, membuat aku merasa
tersedak seakan-akan ludahku tidak bisa tertelan karena membayangi tubuh
Nur yang indah itu. Tiba-tiba Nur berbalik dan kaget melihatku yang
baru saja membayanginya. "Eh.. Bapak, ngagetin saya aja." "Eh.. Nur
boleh saya duduk, saya mau tau kenapa kamu cerai, kamu mau
menceritakannya ke saya." "Eng.. gimana yach.. saya malu Pak, tapi
bolehlah." Akhirnya aku duduk di meja makan sementara Nur menceritakan
sejarah hidupnya sambil terus bekerja mempersiapkan makan siang untukku.
Akhirnya aku baru tahu kalau Nur itu menikah di usia 15 tahun dan
setahun kemudian dia melahirkan Santi dan dia bercerai 2 tahun yang lalu
karena suaminya yang suka mabuk, judi, main perempuan dan suka
memukulinya dan pernah hampir membunuhnya dimana di punggung Nur ada
bekas tusukan pisau. Aku tertegun mendengar ceritanya sementara Nur
seakan mau menangis membayangi jalan hidupnya kulihat itu di matanya
sewaktu dia bercerita. Karena rasa kasihanku kurangkul tubuh Nur.
"Sudah, Nur.. jangan nangis.. sekarang kamu sudah bisa hidup tenangan di
sini bersama anakmu, lupakan masa lalumu yah.. saya minta maaf kalau
membuat kamu harus mengingat lagi." "Iya.. Pak.. saya dan Santi..
berterima kasih sekali.. Bapak dan Ibu baik.. pada kami." "Ya.. sudah..
sudah.. jangan nangis terus.. nanti Santi pulang.. kamu malu deh.. kalau
lagi nangis." Nur menangis dalam rangkulanku, air matanya membasahi
kausku tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain karena kedua
payudaranya menyentuh dadaku yang membuat gejolak nafsuku meningkat.
Tanpa sengaja bibir mungilnya kucium lembut dengan bibirku yang membuat
dirinya gelagapan. "Aaahh.. Bapak!" Tapi kemudian dia membalas kecupanku
dengan lembut sekali diikuti lidahnya memainkan lidahku yang membuat
aku makin berani. "Pak.. sshh.." "Kenapa.. Nur..?" "Tidak.. Pak.. aahh..
tidak apa-apa." Kuangkat roknya dan aku meraba pantatnya yang padat
lalu kutarik ke bawah celana dalam warna hitam miliknya sampai dengkul,
pahanya kuraba dengan lembut sampai vaginanya tersentuh. Nur mulai
bergelinjang, dia membalas dengan agresif leher dan pipiku diciuminya.
Kumainkan jariku pada vaginanya, kutusuk vaginanya dengan jari tengah
dan telunjukku hingga agak basah. "Aahh.. Pak, enak sekali deh.." "Nur..
kalau kita lanjutkan di kamar yuk!" "Saya sih mau aja Pak, tapi kalau
nanti Ibu tahu gimana?" "Ah, ibu khan lagi ke Jogja, lagi pulangnya kan
hari Selasa." Kugiring Nursyifa ke kamarku, sampai di kamar kututup
pintu dan langsung kusuruh Nur untukmenanggalkan pakaiannya. Nur
langsung menuruti keinginanku, seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga
dia bugil. Yang agak mengagetkanku karena keindahan tubuh Nur. Nur
dengan tinggi sekitar 167 cm memiliki payudara yang kencang dan montok
dibungkus kulit yang putih bersih, pinggulNur agak kurus tapi pantatnya
yang agak besar dan padat dan vaginanya yang ditutupi bulu halus agak
lebat membuat aku seakan tidak bisa menelan ludahku. Kalau aku beri
nilai tubuh Nur nilainya 9.9, hampir sempurna. "Bapak, baju Bapak juga
dilepas dong, jangan bengong melihat tubuh Nur." "Nur, tubuhmu indah
sekali, lebih indah dari tubuhnya Ibu." "Ah, masa sih Pak?" "Iya Nur,
tahu gitu kamu saja yang jadi Ibu deh." "Ah Bapak bisa aja nih, tapi
kalau Nur jadi Ibu, Nur mau kok jadi ibu ke dua." Aku langsung
menanggalkan pakaianku dan batang kemaluanku langsung menegang keras dan
panjang.Kuhampiri Nur langsung kucium bibirnya, dipeluknya diriku,
tangan mungil Nur meraba-raba batang kemaluanku lalu dikocoknya, liang
vaginanya kusentuh dan kutusuk dengan jariku, kami bergelinjang
bersamaan. Kami menjatuhkan diri kami bersamaan ke tempat tidur. "Nur,
kamu mau nggak hisap kontol saya, saya jilatin vaginamu." Nur hanya
mengangguk lalu kami ambil posisiseperti angka 69. Batang kemaluanku
sudah digenggam oleh tangannya lalu dijilat, dikulum dan disedot sambil
sesekali dikocoknya. Liang vaginanya sudah kujilati dengan lembutnya,
vaginanya mengeluarkan bau harum yang wangi, sementara rasanya agak
manis terlebih ketika bijiklitorisnya terjilat. Hampir 10 menit lamanya
ketika keluar cairan putih kental membasahi liang vagina itu dan
langsung kutelan habis. "Aaakkhh.. aakkhh.." rintih Nur kelojotan. Tapi
lima menit kemudian giliranku yang kelojotan karena keluarlah cairan
dari batang kemaluanku membasahi muka Nur tapi dengan sigap dia langsung
menelannya hingga habis lalu "helm" dan batangku dibersihkan
denganlidahnya. Setelah itu, aku merubah posisi, aku berbaring sedangkan
Nur kusuruh naik dan jongkokdi selangkanganku. Lalu tangannya menggapai
batang kemaluanku diarahkannya ke liang vaginanya. Tapi karena liang
vagina Nur yang sudah lama tidak dimasukan sesuatu jadi agak sempit
sehinggaaku bantu dengan beberapa kali sodokkan, baru vagina itu
tertembus batang kemaluanku. "Blleess.. jlebb.. jlebb.." Kulihat Nur
agak menahan nafas karena batangku yang besar dan panjang telah menembus
vaginanya. "Heekkh.. heekkhh.. punya Bapak gede banget sih Pak, tapi
Nur suka deh rasanya sodokannya sampai perut Nur." Tubuh Nur
dinaik-turunkan dan sesekali berputar, sewaktu berputar aku merasakan
kenikmatan yang luar biasa. "Nur, vaginamu enak sekali, batangku kayak
diperas-peras oleh vaginamu, terus terang Bapak barukali ini
merasakannya, Nur enak sekali." Setengah jam kemudian, aku merubah
posisi dengan batang kemaluanku masih di dalam vagina Nur, aku duduk dan
kuangkat tubuhnya lalu kubaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dengan
kaki Nur menggantung, kutindih tubuhnya sehingga membuat sodokan
batangku jadi lebih terasa ke dalam lagi masuk vaginanya. "Aakkhh..
aakkhh, iya Pak enakan gaya gini." Payudaranya yang mancung dan puting
yang agak kecoklatan sudah kucium, kuremas dan kusedot-sedot. 15 menit
kemudian kami ganti posisi lagi, kali ini kami berposisi doggie style,
liang vaginanya kusodok oleh batang kemaluanku dari belakang, Nur
menungging aku berdiri. Kuhentak batanganku masuk lebih dalam lagi ke
vagina Nur yang hampir 15 menit kemudian Nur menjerit. "Akhh.. arghh..
sshh.. sshh.. Pak, Nur keluar nih.. akhh.. sshh.." Keluarlah cairan dari
vagina Nur yang membasahi dinding vaginanya dan batang kemaluanku yang
masih terbenam di dalamnya sehingga vagina itu agak licin, tetapi tetap
kusodok lebih keras lagi hingga 10 menit kemudian aku pun berasa ingin
menembakkan cairan dari kemaluanku. "Nur.. saya juga mau keluar nih,
saya nggak tahan nich.." " Pak.. tolong keluarin di dalam saja yach..
saya mau cobain kehangatan cairan Bapak, dan saya kan siap jadi ibu ke
dua." "Crroott.. croott.. crroott.." Keluarlah cairanku membasahi liang
vagina Nur, karena banyaknya cairanku hingga luber dan menetes ke paha
Nur. Lalu kulepaskan batangku dari vaginanya dan kami langsung terbaring
lemas tak berdaya di tempat tidurku. Lima menit kemudian yang
sebenarnya kami ingin istirahat, aku mendengar suara dari luar
kamartidurku kami tersentak kaget. Setelah berpakaian kusuruh Nur keluar
kamarku yang rupanya Santi ada di ruang makan, ia mencari- cari ibunya
setelah pulang dari sekolah. Malam harinya setelah Santi tertidur, Nur
kembali masuk kamarku untuk bermain lagi denganku.Keesokan harinya,
setelah aku terbangun kira-kira jam 8:00, aku keluar kamar, aku
mencariNur, tapi yang aku temukan hanya Santi yang sedang menonton TV.
Rupanya aku baru ingat kalau setiap Minggu pagi Nur pergi berbelanja ke
pasar. Setelah mandi kutemani Santi yang lagi duduk di karpet sambil
nonton TV, sedangkan aku duduk di sofa. "Santi.. gimana sekolah kamu..?"
"Baik.. Pak, bulan depan mau ulangan umum." "Mmm, ya sudah kamu belajar
yang rajin yah, biar Ibu kamu bangga." "Pak, boleh Santi tanya?" "Iya,
kenapa Santi..?" "Kemarin ketika Santi pulang sekolah, Santi kan cari
ibu Santi, pas buka kamar Bapak, Santi melihat Bapak dan ibu Santi lagi
telanjang terus Santi lihat kalau Ibu Santi ditusuk dari belakang oleh
Bapak, ada sesuatu punya Bapak yang masuk ke badan ibu Santi, maaf yach
Pak, Santi lancang. Mama Nur lagi diapain sih sama Bapak?" "Hah, jadi
kamu sempat melihat ibumu telanjang." "Iya Pak, tapi kok Mama Nur
kayaknya keenakan ya. Santi jadi kepingin dech Pak kayak ibu Santi."
"Kamu serius San, kamu mau?" "Iya Pak." Kulihat Santi tersipu malu
menjawab pertanyaan dariku, sementara rok Santi tersingkap
sewaktu duduknya bergeser sehingga pahanya yang putih mulus terlihat oleh
mataku yang membuatku langsung terangsang. Kusuruh Santi duduk
dipangkuanku. "San, sini kamu duduk di pangkuan Bapak." Ketika dia
berdiri menujuku, aku membuka resleting celanaku dan kuturunkan celana
dalamku lalu aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah menegang,
sebelum Santi duduk di pangkuanku, celana dalamnya yang putih kuturunkan
sehingga vagina mungil putih bersih milikgadis 13 tahun ini ada di
hadapanku, menyerbakan aroma wangi dari vaginanya yang ditutupi
bulu-bulu halus dan langsung kujilat dengan lembutnya. Santi memegang
kepalaku dan tubuhnya menggeliat. "Aahh.. sshh.. enak.. Pak.. enak..
sekali." Vagina Santi yang masih muda itu terus kujilati karena rasanya
manis-manis asin. Santi punmakin menggelinjang, kira-kira 15 menit
kemudian Santi mulai kejang-kejang dan basahlah vagina itu oleh cairan
putih kental yang mengalir dari dalamnya, cairan itu kutelan habis.
"Arghh.. arghh.. Pak.. ada yang keluar nih dari tempat pipis Santi..
eugh.. eugh.." Tubuh Santi langsung lemas tak berdaya, cepat- cepat
kupangku. Batang kemaluanku yang mengeraskutempelkan pada vaginanya yang
basah. Tubuhnya kuarahkan menghadapku, kemeja yang dikenakan Santi
kulepas sehingga dia hanya mengenakan baju dalam yang tipis, payudara
Santi yang baru tumbuh terbayang di balik baju dalamnya, segera
kulepaskan sehingga di mukaku terpampang payudara yang baru mekar
ditutupi kulit yang putih bersih dengan dihiasi puting agak kemerahan,
langsung kulahap dengan mulutku, kujilat, kugigit dan kuhisap membuat
payudara itu makin mekar dan putingnya mengeras. Sementara Santi masih
tertidur lemas, batang kemaluanku yang sudahmenempel di vagina Santi
yang masih sempit kusodok-sodokkan agar masuk, karena vagina itu masih
sempit. kumasukkan dua jariku untuk membuka vagina itu, kuputar kedua
jariku sehingga vagina itu agak melebar dan basah. Setelah itu kucoba
lagi dengan batang kemaluanku, kusodok masuk batanganku ke vagina Santi
yang memang masih sempit juga walau sudah dibantu dengan jariku.
Akhirnya setelah 20 kali kutekan, masuklah helm batanganku ke vagina
Santi. Santi mulai tersadar ketika batanganku menyodokvaginanya, dia pun
menjerit kesakitan. "Aawww.. aawww.. sshh.. sshh.. aawww.. sakit..
Pak.. tempat pipis Santi.. sakit awww.. aawww.." "Sabar sayang nanti
juga enak.. sayang.. tahan ya.. sakitnya.. sebentar lagi.." Kupeluk
tubuh Santi dan menenangkannya dari rasa sakit pada vaginanya yang robek
oleh batangkemaluan milikku yang memang super besar. Sodokkanku pada
vagina Santi kupelankan untuk mencegah rasa sakitnya dan 10 menit
kemudian Santi merasakan kenikmatan. "Ahh.. ahh.. arghh.. arghh.. Pak..
sekarang tidak sakit lagi.. sekarang jadi enak.. aahh.. aahh.." Hampir
setengah jam kemudian tiba-tiba Santi mengeluarkan cairan dari dalam
vaginanya berikut tetesan darah dan langsung tubuh Santi lemas lagi dan
pingsan. Aku menyadari bahwa aku telah membobol keperawanan Santi.
"Arrgghh.. Pak.. Santi.. lemmaass.." Aku agak kaget juga melihat keadaan
Santi yang secara tidak sengaja kubobol keperawanannya tapi karena
sudah tanggung terus kugenjot batanganku ke vagina Santi yang sudah
berdarah dan 10 menit kemudian keluarlah cairan dari dalam kemaluanku
dengan derasnya memasuki liang vagina Santi hingga meluber ke pahaku.
"Crroot.. crroott.." "Ssshh.. sshh.. aahh.. nikmatnya.. vagina.. gadis
ini.." Langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Santi dan
kubaringkan Santi yang pingsan di Sofa. Sisa cairan yang masih melekat
di vagina Santi kulap dengan bajuku hingga bersih, sesudah itu
kurapihkan baju Santi dan kubiarkan Santi yang masih pingsan tidur di
Sofa, aku lalu membersihkan badanku sendiri. Sepuluh menit kemudian
Nursyifa, datang dari pasar sedangkan aku sudah memakai baju lagi.
Sejaksaat itu aku bermain dengan istriku jika dia di rumah, dengan Nur
jika istriku pergi dan Santi sekolah, dengan Santi jika istriku dan Nur
pergi. Aku lakukan sudah hampir 3 bulan lamanya merasakan kenikmatan
dari tiga perempuan di dalam rumahku, tapi sekarang aku sedang bingung
sebab 2 bulan yang lalu akhirnya istriku mendapat berkah bahwa dia hamil
1 bulan, 1 bulan yang lalu giliran Nur yang kuketahui bahwa dia hamil 1
bulan juga, sekarang 2 minggu yang lalu setelah kuajak Santi periksa ke
dokter dia sudah hamil 1 bulan juga. Duuhh.. pusingnya aku! Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)