Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu
masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu. Nama
saya sebut saja Iwan dan berasal dari Jakarta dan waktu itu saya kos di
dekat daerah Dago. Tempat kosnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu
itu berumur sekitar 28 tahun. Suaminya
sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan dia belum sempat
dikaruniai anak. Untuk membiayai kehidupan sehari-harinya dia bekerja di
salah satu bank swasta di Bandung. Sebelumnya saya kos di daerah
Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari
tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang
teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya
datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak
ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum
karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung
akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat
saudara sepupunya. Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan
wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan
ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama
saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan
luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup
tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu
untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta
membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian
dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering
digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai
beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini
sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian- pakaian
dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah. Di rumaHPun Mbak Rita
cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah
walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju
tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya
sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar
mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu
besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan
kemulusan pahanya terlihat jelas. Suatu pagi waktu saya sedang sarapan
Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di
halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan
bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah
oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan
putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia
sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda
saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, "Hayo,
lihat apa kamu?" Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Ngga lihat
apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?" Mbak Rita
balik bertanya, "Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?". "Ya
suka dong Mbak, namanya juga laki-laki". Waktu itu saya malu sekali dan
mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang
sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri
pandang ke arah dadanya. Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di
ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya
yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia
berkata kepada saya. "Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin
karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?" Dengan spontan saya
berkata, "Boleh Mbak. Di mana?" "Ke kamar Mbak aja deh", katanya.
Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang
karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba
mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya
dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian
mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya
ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil.
Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju
tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya
dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string
berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang
lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya
indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang
berwarna coklat kemerahan. "Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?"
Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya
melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya
saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada
internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan
saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan
baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya
ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu
saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar,
dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana
dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan
menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya
dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia
terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan
lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya.
Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh
kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya.
Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana
dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang. Saya minta Mbak Rita
membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di
dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan
jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar
menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta
saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar
terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan
seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan
cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana
pendek dan celana dalamku. "Kamu juga sudah terangsang yah Wan?". "Iya
dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini", kataku sambil tertawa.
Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks
kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan
melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi
kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami
hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali
dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Selang beberapa lama
kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di
ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku
sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan
kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan
yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya
dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan
sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari
kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan
kemaluannya. Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan
diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku
lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati
kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku
memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. "Ayo dong Wan, aku sudah tidak
tahan lagi nih". Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan
Mbak Rita berkata, "Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu."
Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan
kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan
pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya
berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata,
sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita
secantik Mbak Rita. Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah
kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian
mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil
yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan
gaya-gaya lainnya. Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak
saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal
yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya
di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang.
Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari
setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di
ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia
memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah
lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas
melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami
menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak
Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita
langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya. Saya juga mulai
sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya
seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak
dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga
tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua
dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin
ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar
rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia
ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia
menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu
kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa- apa lagi..
Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas
dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.
Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku
tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang
janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu
menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami
akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui. Tamat
Ibu Kost Ku Kekasih Ku
Selasa, 18 Desember 2012 | 0 komentar
Continue Reading
Aku dan Mrtua Ku
| 0 komentar
Ini adalah salah satu pengalaman nyata dari
kehidupan sex-ku selama ini. Aku Roy, 32 tahun. Menikah, punya 2 anak.
Istriku sangat cantik. Banyak yang bilang mirip bintang sinetron ternama
saat ini. Kami tinggal di Bandung. Yang akan aku ceritakan adalah
hubunganku dengan mertua aku sendiri. Mertua aku tinggal di kota P,
masih wilayah Jawa Barat. Suatu waktu aku ada tugas kerja ke kota P
tersebut. Aku pergi naik motor. Sesampainya di kota P, aku langsung
menyelesaikan tugas dari kantor. Setelah selesai, aku sengaja singgah
dulu ke rumah mertua untuk istirahat. Sesampai di rumah, mertua
perempuanku datang menyambut. "Kok sendirian Roy? Mana anak istrimu?"
tanya mertuaku. "Saya ada tugas kantor disini, Ma. Jadi mereka tidak
saya ajak. Lagian saya cuma sebentar kok, Ma. Hanya mau numpang mandi
dan istirahat sebentar," jawabku. "O begitu.. Akan mama siapkan makanan
buat kamu," ujar mertuaku. Lalu aku mandi. Setelah itu aku segera ke
meja makan karena sudah sangat lapar. "Papa mana, Ma?" tanyaku. "Papa
lagi ke rumah temannya ngurusin obyekan," jawan mertuaku. "Kamu mau
pulang jam berapa, Roy?" tanya mertuaku. "Agak sorean, Ma. Saya akan
tidur sebentar. Badan pegal hampir 3 jam naik motor dari Bandung,"
kataku. "Kalau begitu ganti baju dulu dong. Nanti kusut kemeja kamu,"
ujar mertuaku sambil bangkit menuju kamarnya. Lalu dia datang lagi
membawa kaos dan kain sarung. "Ini punya Papa, pakailah nanti," kata
mertuaku. "Iya, Ma," kataku sambil terus melanjutkan makan. Mertuaku
berumur 42 tahun. Sangat cantik mirip istriku. Badan ramping, buah dada
besar walau agak turun karena usia. Pantatnya sangat padat. Setelah
berganti pakaian, aku duduk di ruang tamu sambil nonton TV. "Loh katanya
mau tidur?" tanya mertuaku sambil duduk di kursi yang sama tapi agak
berjauhan. "Sebentar lagi. Ma. Masih kenyang," ujarku. Lalu kami nonton
TV tanpa banyak bicara. "Tahukah kamu, Roy.. Bahwa mama sangat senang
dengan kamu?" tanya mertuaku kepadaku memecah kesunyian. "Kenapa, Ma?"
tanyaku. "Dulu sejak pertama kali datang kesini mengantar istrimu
pulang, mama langsung suka kamu. Ganteng, tinggi, sopan, dan ramah,"
kata mertuaku. Aku hanya tersenyum. "Sekarang kamu sudah menikahi anak
mama dan sudah punya anak 2, tapi kamu tetap sama seperti yang dulu..,"
kata mertuaku lagi. "Mama sangat sayang kamu, Roy," kata mertuaku lagi.
"Saya juga sayang mama," ujarku. "Ada satu hal yang ingin mama lakukan,
tapi tidak pernah berani karena takut jadi masalah..," kata mertuaku.
"Apa itu, Ma?" kataku. "Mama ingin memeluk kamu walau sebentar..," ujar
mertuaku sambil menatapku dengan mata sejuk. "Kenapa begitu, Ma?"
tanyaku lagi. "Karena dulu mama sangat suka kamu. Sekarang ditambah lagi
rasa sayang," kata mertuaku. Aku tatap mata mertuaku. Kemudian aku
tersenyum. "Saya yang akan peluk mama sebagai rasa sayang saya ke mama,"
ujarku sambil beringsut mendekati mertuaku sampai badan kami
bersentuhan. Kemudian aku peluk mertuaku erat. Mertuakupun balas memeluk
aku dengan erat sepertinya tidak mau melepas lagi. "Boleh mama cium
kamu Roy? Sebagai tanda sayang?" tanya mertuaku. Aku agak kaget. Aku
lepaskan pelukanku, lalu tersenyum dan mengangguk. Mertuaku tersenyum,
lalu mencium pipi kiri, pipi kanan, kening. Lalu.. Mertuaku menatap
mataku sesaat kemudian mengecup bibirku. Aku sangat kaget. Tapi aku
tetap diam, dan ada sedikit rasa senang akan hal itu. Selang beberapa
detik mertuaku kembali mengecup bibirku.. Dan melumatnya sambil
merangkulkan tangannya ke pundakku. Secara spontan aku membalas ciuman
mertuaku. Kami saling hisap, mainkan lidah.. Nafas mertuaku terdengar
agak cepat. Tangan mertuaku masuk ke dalam kain sarung, lalu menyentuh
kontolku dari luar CD. Tangannya lalu mengusap pelan lalu mulai meremas
kontolku. Kontolku langsung tegang. Tiba-tiba.. Kringg! Krinngg! Bunyi
telepon mengagetkan kami. Kami langsung memisahkan diri. Mertuaku
langsung bangkit menuju telepon. Entah apa yang dibicarakan. Karena
merasa agak bersalah, aku segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu
merebahkan diri di kasur. Terbayang terus peristiwa tadi berciuman
dengan mama mertua sambil merasakan nikmatnya diremas kontol. Tiba-tiba
terdengar pintu diketuk. Kemudian pintu terbuka. Mertuaku masuk. "Sudah
mau tidur, Roy?" tanya mertuaku. "Belum, Ma," ujarku sambil bangkit lalu
duduk di tepi ranjang. Mertuaku juga ikut duduk di sampingku. "Kamu
marah tidak atas kejadian tadi," tanya mertuaku sambil menatap mataku.
Aku tersenyum. "Tidak, Ma. Justru saya senang karena ternyata mama
sangat sayang dengan saya," jawabku. Mertuaku tersenyum lalu memegang
tanganku. "Sebetulnya dari dulu mama memimpikan hal seperti ini, Roy,"
ujar mertuaku. "Tapi karena istrimu dan papamu selalu ada, ya mama hanya
bisa menahan perasaan saja..," ujar mertuaku sambil mencium bibirku.
Akupun segera mebalas ciumannya. Dan sekarang aku mulai berani. Tanganku
mulai meraba buah dada mertuaku dari luar dasternya. Aku meremasnya
perlahanan. Tangan mertuakupun segera melepas kain sarung yang aku
pakai. Tangannya langsung meraba dan meremas kontolku dari luar CD-ku.
Kontolku makin mengeras. Mertuaku merogoh kontolku hingga berdiri tegak.
Sambil tetap berciuman tangannya terus mengocok dan meremas kontolku.
Akupun terus meremas buah dada mertuaku. Tak lama, mertuaku bangkit lalu
melucuti semua pakaiannya. Akupun melakukan hal yang sama. Mertuaku
segera naik ke tempat tidur, dan aku segera menaiki tubuhnya. Aku kecup
bibirnya. "Mama senang kamu datang hari ini, Roy.. Lebih senang lagi
karena ternyata kamu bisa menerima rasa sayang mama kepada kamu..." ujar
mertuaku sambil menciumku. "Saya juga senang karena mama sangat
menyayangi saya. Saua akan menyayangi mama..." kataku sambil memagut
leher mertuaku. Mertuaku mendesah dan menggelinjang merasakan desiran
nikmat. Pagutanku kemudian turun ke buahdada mertuaku. Kujilati dan
gigit- gigit kecil puting susu mertuaku sambil tangan yang satu meremas
buah dada yang lain. "Ohh.. Mmhh.. Mmhh.. Ohh..." desah mertuaku semakin
merangsang gairahku. Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut,
tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku. "Jangan ke bawah, Roy.. Mama malu.
Segera masukkin saja.. Mama sudah tidak tahan..." ujar mertuaku. Aku
tersenyum dan maklum karena mertuaku termasuk orang yang konvensional
dalam masalah sex. Aku buka lebar paha mertuaku, lalu aku arahkan
kontolku ke memek mertua yang sudah basah dan licin. Tangan mertuaku
segera memegang kontolku lalu mengarahkannya ke lubang memeknya. Tak
lama.. Bless.. Kontolku langsung memompa memek mertuaku. Terasa tidak
seret, tapi masih enak rasanya menjepit kontolku.. "Ohh.. Sshh.. Oh,
Roy.. Mmhh..." desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat.
Mertuaku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama,
tiba-tiba mertuaku bergetar lalu tubuhnya agak mengejang. "Oh, Roy..
Mama mau keluarr.. Mmhh..." jerit kecil mertuaku. "Terus setubuhi
mama..." desahnya lagi. Beberapa saat kemudian tubuh mertuaku melemas.
Dia telah mencapai orgasme.. Akupun berhenti sejenak memompa kontolku
tanpa mencabutnya dari memek mertuaku. Memeknya terasa makin licin oleh
air maninya. "Mama belum pernah merasakan nikmat seperti ini, Roy," ujar
mertuaku sambil mengecup bibirku. "Terima kasih, Roy..." ujarnya lagi
sambil tersenyum. Akupun segera mengerakan kontolku menyetubuhi lagi
mertuaku. "Boleh Roy minta sesuatu, Ma?" tanyaku sambil terus memompa
kontolku. "Apa?" ujar mertuaku. "Saya mau setubuhi mama dari belakang.
Boleh?" tanyaku. Mertuaku tersenyum. "Boleh tapi mama tidak mau
nungging. Mama tengkurap saja ya?" ujar mertuaku. "Iya, Ma," ujarku
sambil mencabut kontolku. Mertuaku segera tengkurap sambil sedikit
melebarkan kakinya. "Ayo, Roy," ujar mertuaku. Aku segera masukkan
kontolku ke memek mertuaku dari belakang. Terasa lebih nikmat daripada
masuk lewat depan. Mata mertuaku terpejam, dan sesekali terdengar
desahannya. Akupun terus menikmati rasa nikmat sambil terus memompa
kontolku. Kemudian terasa ada sesuatu rasa yang sangat kuat ingin keluar
dari kontolku. Kupercepat gerakanku menyetubuhi mertuaku. Ketika hampir
mencapai klimaks, aku cabut kontolku, lalu.. Crott! Crott..! Crott! Air
maniku keluar banyak di punggung dan pantat mertuaku. "Ohh.. Enak,
Ma..." kataku. Kugesekkan kontolku ke belahan pantat mertuaku. Selang
beberapa menit setelah kelelahan agak hilang, mertuaku berkata, " Tolong
bersihkan punggung mama, Roy..". "Iya, Ma," ujarku. Lalu aku bersihkan
air maniku di tubuh mertuaku. Setelah berpakaian, lalu kami keluar
kamar. Terlihat wajah mertuaku sangat ceria. Menjelang sore, mertua
lelaki pulang. Aku dan mertua perempuanku bertindak biasa seolah tidak
pernah terjadi apa-apa di antara kami. Setelah makan malam, aku diminta
mertua perempuanku utnuk membawakan semua piring kotor ke dapur. Aku
menurut. Mertua lelaki aku setelah makan malam langsung menuju ruang
televisi dan segera menonton acara kesukaannya. Di dapur, mertuaku
perempuanku langsung menarik tanganku ke sudut dapur lalu menciumku. Aku
membalasnya sambil tanganku langsung memegang selangkangannya kemudian
meraba memeknya. "Nakal kamu. Tapi mama suka," ujar mertuaku sambil
tersenyum. "Nanti Papa kesini, Ma.. Udah, ah Roy takut," ujarku. "Tidak
akan kesini kok, Roy," ujarnya. "Sebelum kamu pulang, mama mau sekali
lagi bersetubuh dengan kamu disini..." ujar mertuaku sambil tangannya
segera meremas kontolku dari luar celana. "Saya juga mau, tapi jangan
disini, Ma.. Bahaya," ujarku. "Ayo dong, Roy.. Mama sudah tidak tahan,"
ujarnya lagi. Tangannya terus meremas kontolku. "Kita ke hotel yuk,
Roy?" ajak mertuaku. Aku mengangguk. Kemudian dengan alasan akan ke
rumah temannya, mertuaku perempuanku meminta ijin pergi diantar olehku.
"Jangan lama-lama ngobrol disana, Ma.. Si Roy kan malam ini mau pulang.
Kasihan nanti dia capek," ujar mertua lelaki. "Iya dong, Pa..." ujar
mertua perempuanku. Kemudian kami naik motor segera pergi mencari hotel.
Setelah selesai registrasi, kami segera masuk ke kamar. Tanpa banyak
cakap, mertuaku langsung memeluk dan menciumku dengan liar. Aku balas
ciumannya.. "Cepat kita lakukan, Roy.. Waktu kita hanya sedikit," ujar
mertuaku sambil melucuti semua pakaiannya. Aku juga demikian. Mertuaku
langsung naik ke kasur, lalu aku menyusul. Tangan mertuaku langsung
menggenggam kontolku dan diarahkan ke memeknya. "Mama kok buru-buru
sih?" tanyaku sambil tersenyum ketika kontolku sudah masuk memeknya.
Lalu aku pompa kontolku perlahan menikmati enaknya memek mertuaku.
"Habisnya mama sudah tidak tahan sejak tadi di rumah, pengen merasakan
kontol kamu lagi," kata mertuaku sambil menggoyang pinggulnya
mengimbangi gerakanku. Selang beberapa belas menit tiba-tiba mertuaku
mendekap aku erat sambil mengerakkan pinggulnya cepat. Kemudian.. "Ahh..
Mmhh.. Enak sayang..." desah mertuaku mencapai puncak orgasmenya.
Badannya melemas. Aku terus memompa kontolku lebih cepat. Terasa lebih
nikmat. Sampai beberapa lama kemudian aku tekan kontolku ke lubang memek
mertuaku dalam-dalam, dan.. Crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar
di dalam memek mertuaku. "Maaf, Ma.. Roy tidak bisa menahan.. Sehingga
keluar di dalam," ujarku sambil memeluk tubuh mertuaku. "Tidak apa-apa,
Roy," jawab mertuaku. "Mama sudah minum obat kok," ujarnya lagi. "Kalo
mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?" tanya
mertuaku. "Bisa saja, Ma.. Kita jalan berdua saja dengan alasan pergi
kemana..." jawabku. Mertuaku tersenyum. "Kita pulang Roy," ujar
mertuaku. Sesampai di rumah, aku langsung bersiap untuk pulang ke
Bandung. Ketika aku memanaskan motorku, mertua perempuan mendekatiku.
Sementara mertua lelaki duduk di beranda. "Hati-hati di jalan ya, Roy,"
ujar mertuaku. "Iya, Ma. Terima kasih," ujarku sambil tersenyum.
"Tengokin mama dong sesering mungkin, Roy," ujar mertuaku sambil
tersenyum penuh arti. "Iya, Ma," ujarku sambil tersenyum pula. Lalu aku
pulang. Sejak saat itu hingga kini aku selalu menyempatkan diri sebulan
sekali untuk datang ke rumah mertuaku, tentu saja setelah aku di-SMS
dahulu oleh mertua perempuanku. Ini adalah kisah nyata kehidupan aku.
TAMAT
Nikmatnya ABG SMU
| 0 komentar
Masih ingat saya pembaca? Ya, saya Andi, umur
33 tahun, tinggi 160 cm, berat 50 kg, kulit sawo matang dan pernah
mengirimkan pengalaman pribadi saya dengan judul "Rental Internet
Favoritku". Terima kasih sebelumnya pada pengelola website RumahSeks
atas termuatnya cerita saya itu. ***** Kali ini adalah pengalaman
sex saya dengan ABG yang masih SMU bernama Linda. Setelah saya
mengirimkan cerita saya tersebut, saya mendapat email dari Linda yang
katanya tertarik dengan pengalaman saya dan kebetulan dia sedang di
Lombok dalam rangka liburan bersama keluarganya. Kami janjian lewat
email bertemu pada bulan Oktober di sebuah rental internet di Mataram.
Tentu saja pembaca, saya yang menentukan lokasinya di rental internet
tersebut, karena hari itu saya masih harus membalas beberapa email yang
ingin berkenalan denganku dan mencari tahu tentang pariwisata di Lombok.
Pada hari Kamis, saya sudah stand by di rental tersebut, berdebar-debar
juga rasanya saya menunggu Linda, seperti apa rupanya ya. "Selamat
pagi, Om namanya Andi khan?" "Ya, betul.. Ini Linda ya!" tanya saya
kembali padanya. Di hadapan saya sekarang adalah seorang ABG keturunan
tionghoa yang cantik. Saya perkirakan umurnya baru 16 tahun, tinggi 160
cm, berat 47 kg dan berkulit putih mulus khas cina dengan rambut lurus
sebahu, memakai baju hem ketat warna krem, celana jins hitam tiga
perempat yang pas. Duduk di samping saya tampak mengintip CD-nya yang
berwarna putih. Kontol saya langsung tegak bagaikan Monas melihat cewek
cantik ini. "Gimana khabarnya?" tanyaku membuka percakapan sambil
mempersilakannya duduk. "Baik Om, senang rasanya liburan ke Lombok" "Oh
ya? Udah kemana aja Linda?" "Ke pantai Senggigi, terus Suranadi dan
tempat gerabah itu" "Terus Linda sekarang sama siapa?" "Sama Papa, Mama
dan sepupu, Linda tinggal di Senggigi Beach Hotel" "Wah, asyik dong.."
"So pasti, tapi lebih asyik kalo diantar sama tour guide seperti Om"
"Itu sich gampang Lin, yang penting ada komisinya lho" canda saya.
"Tenang Om, dijamin nggak nyesel dech nganterin Linda" Linda orangnya
supel dengan senyumnya yang manis mirip artis mandarin dan aroma
tubuhnya yang sangat wangi. 'Adik' saya sudah nggak bisa diam nich.
"Ceritanya Om Andi tuch asli khan?" "Tentu saja asli lho, dari
pengalaman pribadi" "Enak dong" "Enak apanya Lin?" pancing saya mulai
memepetkan tempat duduk. Ini baru kesempatan namanya. Asik khan pembaca,
bisa berduaan sama abg yang tentu saja masih seger-segernya..
"Gituannya lho.." jawabnya tersipu malu. "Emangnya Linda pernah gituan
sama pacar?" "Ya.. Hampir pernah" "Hampir pernah gimana, nggak usah malu
dech, ceritain dong" "Siapa tahu Om bisa bantu" ujarku sambil tangan
kiri saya merangkul pundaknya. Wah, Linda tampaknya nggak marah nich
saya pegang pundaknya, berarti ada lampu hijau dong. "Janji ya Om, nggak
bilang siapa-siapa" "Janji dech" saya menunjukkan tanda victory
padanya. "Gini Om, Tony pacar saya itu kalo udah nafsu cepat keluarnya,
padahal Linda belum apa-apa" "Maksudnya.." tanyaku pura-pura blo'on
padahal tahu maksudnya. "Iya, pas kontolnya Tony nempel di anunya Linda,
udah keluar duluan" "Oh gitu, itu istilah kedokterannya ejakulasi dini"
"Terus ngatasinya gimana dong Om" "Ya, Linda harus bisa foreplay dulu,
maksudnya pemanasan gitu" "Ya udah Om, tapi Tony maunya terburu-buru en
lagian mainnya kasar sich" "Linda mau Om bantuin?" tanya saya yang sudah
tidak lagi melihat isi layar monitor sejak tadi. "Maksud Om..?" "Ya..
Gimana caranya foreplay" "Hus.. Om ini ngaco, Linda khan pacarnya orang"
"Bukannya ngaco, Linda ya tetap pacarnya Tony, Om khan cuma memberikan
petunjuk" jawab saya sungguh-sungguh membujuknya agar mau foreplay,
habis potongan tubuhnya itu, alamak geboy abis, mungkin rajin fitnes ya
atau aerobic. "Tapi.. Ada orang lho di sini Om, Linda khan malu" "Nggak
ada orang di sini kok, sini Om pangku" rayuku sambil menarik pinggangnya
untuk duduk di pangkuan saya menghadap monitor komputer. "Om..
Jangan.." celetuknya ragu dan canggung. "Udah.. Atasnya doang kok,
gimana?" tanya saya sambil membuka dua kancing atas hemnya hingga
kelihatan BH merahnya, tangan kanan saya langsung masuk meremas
payudaranya. "Ja.. Ngan.. Om.. Geli.." "Gimana rasanya Lin.." "En.. Ak..
Sst.. Mmh" Linda kelihatannya sudah agak terangsang dengan permainan
tangan saya, ditambah lagi ciuman saya yang mendarat secara tiba-tiba
pada lehernya. Tangan kiri saya juga mulai aktif meremas payudaranya
yang sebelah. Ciuman pada lehernya saya ubah jadi menjilat, jadi kedua
tangan meremas dan kadang-kadang memelintir kedua putingnya itu yang
makin lama makin mengeras. "Mmh.. Mmh.." gumam Linda. Beberapa menit
kemudian.. "Udah.. Om.. Sst.. Udah.." tahan Linda sambil melepaskan saya
dan merapikan bajunya. "Ada apa Lin, contoh foreplay belum abis lho"
goda saya tersenyum. "Mmh.. Iya sich Om, cuman nggak leluasa di sini"
"Maunya Linda dimana?" "Tempat yang sepi orangnya gitu" Saya lihat
tempat rental internet itu sudah mulai ramai kedatangan pengunjung,
mungkin Linda agak terganggu juga konsentrasinya. "Gimana kalo di hotel
aja Lin, di sana lebih tenang" usulku. "Iya dech.. Tapi jangan di
Senggigi ya Om", jawabnya sambil tangannya mengandeng saya mesra. "Oke,
nanti OM cariin yang agak jauh dari Senggigi" Dan kami pun check in di
salah satu hotel yang agak jauh dari Senggigi, karena saya tahu Linda
tidak mau ketahuan keluarganya, katanya dia bilang sama keluarganya mau
ke rental internet selama 3 jam. Karena itu kami pergunakan kesempatan
ini sebaik-baiknya. "Wah, di sini baru tenang nich" kata Linda sambil
memperhatikan hotel yang lumayan tenang karena tempatnya agak jauh dari
Senggigi dan kota. "Nah, sekarang gimana? Mau nerusin caranya foreplay?"
"Mmh.. Gimana ya" Linda agak ragu kelihatannya. Wah, anak ini harus
dirangsang lagi supaya mau foreplay, soalnya si 'buyung' sudah tegak
seperti pentungan pak satpam. Kemudian saya membuka kaos atas saya dan
celana panjang jins hingga tinggal CD, sengaja saya membuka baju
menghadap ke Linda. "Wow.. Apaan tuch Om, kok kembung" kata Linda sambil
menunjuk ke kontol saya. "Linda mau lihat punya Om ya" Kutanggalkan
semua celana dalam saya hingga saya bugil dan kelihatan kontol yang
tegak itu. "Wow.. Kontol Om bengkok dikit ya.." terheran- heran Linda
melihat bentuk kontol saya. "Ini baru asli lho Lin, tanpa pembesaran"
ujarku sambil mendekatinya. Tangan saya aktif membuka hem kremnya dan
celana jins hitam tiga perempatnya. Sekarang tampak jelas BH merahnya
dan CD putihnya yang cantik, pemandangan yang indah. Saya gendong Linda
dan menaruhnya dengan lembut di sofa itu, kemudian saya mencium dan
menjilat bibirnya serta tangan saya meremas payudara dan mencopot
pengait BH-nya. "Om.. isep.. sst.. susu.. nya.. Linda.." rengeknya
meminta saya menghentikan ciuman dan beralih ke payudaranya, ciuman dan
hisapan saya giatkan, kemudian puting itu saya gigit perlahan. "Terr..
us.. Om.. sst.. sst.." rintihnya sambil memindahkan kepala saya pada
payudaranya. Tangan kiriku mengusap payudara sebelah kiri dan tangan
kanan saya masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vaginanya yang ditumbuhi
bulu halus, kemudian saya masukkan jari keluar- masuk dengan lancar.
"Ouh.. Mmh.. Enak.. Om.. Nah.. Gitu.." Saya turun lagi mencium perutnya
yang putih bersih, turun lagi mencium CD-nya yang mulai basah. "Buka..
Aja.. Om.. Cepet.. Sst" celotehnya yang sudah bernafsu sekali sambil
membuka CD-nya. Sekarang terlihat jelas sekali vaginanya yang masih
kencang dan saya jilat dengan pelan dan semakin ke dalam lidah saya
menari-nari. "Sst.. Terr.. Us.. Om.. Mmh.." rintihnya tak karuan sambil
menjepit kepala saya. Beberapa menit saya permainkan vaginanya dan paha
bagian dalam Linda yang sudah sangat basah sekali. "Om.. Mmhmm.. Ganti..
Om.. Sstss" "Gantian gimana Lin.." goda saya sambil telentang. "Gantian
Linda isep kontolnya Om, tapi jangan keluar dulu ya" "Beres, nanti Om
pakai kondom kok" "Mmh.." Linda tidak menjawab, soalnya sudah mulai
menghisap kontol saya, pertama-tama cuma masuk setengah tapi
lama-kelamaan masuklah semua kontol saya. "Terr.. Us.. Lin.. Jilat.."
perintah saya sambil memegang kepalanya dan mendorong pelan supaya
kontol saya masuk semua ke mulutnya. Beberapa menit kami melakukan oral
sex, Linda ternyata menikmati permainan itu. "U.. Dah.. Lin.. Om.. Nggak
tahan.. Nich" "Iya Om, Linda juga pengin ngerasain senggama gaya kuda
ama kontolnya Om yang bengkok itu hi.. hi.." celotehnya tertawa sambil
mengambil posisi menungging. "Sabar ya Lin, Om pasang kondom dulu"
Kemudian setelah saya pasang kondom, saya masukkan ke vaginanya, tenyata
meleset. "Aduh.. Om.. Pelan.. Dong" rintihnya kesakitan. Memang vagina
Linda masih sempit kelihatannya dan posisi tersebut agak susah sich.
"Lin tolong bantuin pegangin kontol Om" "Sini Linda bantuin masukin tapi
pelan ya" Linda kemudian memegang kontol saya dan mengarahkan ke
vaginanya dan saya dorong pelan, pelan tapi pasti dan bless.. masuk
seluruhnya dengan dorongan saya yang terakhir agak keras. "Aduh Om
sakit" "Nggak apa-apa kok Lin, udah masuk kok" "Sst.. Om.. Gini rasanya
ya.. Sst.." "Gi.. Mana.. Lin.." "E.. Nak.. Sst.. Agak cepetan Om.. Sst"
"Nahh.. Sst.. Gitu.." Genjotan demi genjotan saya giatkan sambil tangan
kiri memegang perutnya dan tangan kanan memegang payudaranya. Plok..
Plok.. Plok.. Demikian kira-kira bunyinya. Kira-kira beberapa menit saya
ngentot dengan Linda dengan posisi doggy style. Dan semakin lama
semakin cepat. "Ce.. Pat.. Sst.. Sst.. Om.. Aah.. Linda mau keluar nich"
rintihnya tertahan. "Sa.. ma.. an.. Lin.. keluarnya.. sst.. yess.."
jawab saya sambil mempercepat sodokan kontol saya. "Sst.. Lin.. Da..
Sst.. Kel.. Uar.. Om.. Argh.." jerit Linda. Tiba-tiba tubuh Linda
mengejang dan saya pun juga, akhirnya crot.. crot.. crot.. Keluar cairan
putih dalam kondom saya, bersamaan dengan muncratnya cairan di vagina
Linda. Tubuh kami pun lemas menikmati sensasi yang luar biasa itu.
"Trim's ya Lin, rasanya gimana?" tanya saya sambil mengecup pipinya.
"Enak sekali Om, baru kali ini Linda puas" "Gimana ML ama Om Andi Lin?"
tanya saya sambil mencium pipinya. "Puas rasanya ke Lombok, dapat
plusnya lagi" katanya sambil ke kamar mandi dan beberapa menit sehabis
mandi kemudian Linda sudah merapikan bajunya. "Sampe besok ya, sehari
lagi Linda pulang lho" "Okey, kapan ketemu lagi?" "Terserah Om dech,
tapi jangan terlalu malam ya, nanti Papa curiga lho" "Gimana kalo jam
19.20 Om jemput?" "Okey dech, seperti biasa ya" Maksudnya seperti biasa
adalah, Linda kujemput pakai mobil sewaan di Senggigi, tapi agak jauhan.
Karena jika ketahuan bapaknya khan bisa berabe. Pukul 19.30 Linda sudah
berada dalam mobil bersama saya, dengan memakai rok jins span warna
biru dipadu dengan kaos ketat warna putih selaras dengan warna kulitnya.
Aduh mak, makin cantik aja nich ABG, pikirku. "Kita kemana Om?"
"Bandara Selaparang" "Ngapain ke sana?" tanyanya heran. "Udah nggak usah
banyak tanya, nanti juga tahu" "Linda ama Papa cuma dikasih ijin satu
jam lho Om" "Maka itu, Om mau kasih hadiah buat Linda" "Wah, terima
kasih Om" jawabnya sambil mencium pipi saya mesra. Saya pilih bandara
itu agar bisa romantis dan bisa lebih pribadi, tahu khan pembaca maksud
saya, he.. he.. he... Setelah sampai di bandara, saya parkir mobil di
tempat yang agak sepi, kebetulan juga kacanya hitam pekat. Saya ajak
Linda pindah ke tempat duduk belakang mobil Kijang itu agar lebih
leluasa kalau mepet-mepetan. "Mana hadiahnya Om?" tanya Linda tidak
sabaran, karena tidak tahu apa hadiahnya. "Om cuma mau kasih hadiah
seperti kemaren" selidik saya menunggu tanggapannya. "Maksud Om?" "Iya,
seperti yang Om ajarkan kemarin, nah itu hadiahnya, tapi Linda mau
nggak?" "Idih, si Om maunya.." jawab Linda sambil tersipu. Bagi saya itu
sudah cukup merupakan tanda setuju dari Linda hingga tanpa menunggu
jawaban dari Linda, saya langsung mencium bibirnya dan tangan saya sudah
mendarat pada pahanya. Saya elus-elus pahanya yang putih dan masih
terbalut oleh jins biru yang sangat seksi hingga memperlihatkan
lekuk-lekuk bodinya. Linda juga kelihatannya ingin menghabiskan malam
terakhirnya bersama saya dengan tergesa-gesa membuka celana saya sampai
separuh dan melahap kontol saya yang sudah kencang dari tadi. "Teru..
Ss.. Lin.." perintah saya sambil membuka kaos dan BH putihnya yang
berenda itu. "Mmh.. Mmbmnb.." celotehnya tidak jelas karena mulutnya
penuh dengan kontol saya yang maju mundur dihisapnya dengan irama yang
cepat. "Ud.. Ahh.. Lin.. Om.. Mau.. Kel.. Uar.. Arghh.." Tiba-tiba Linda
melepaskan kulumannya, dan berganti posisi dengan saya yang berjongkok
dan Linda yang duduk sambil membuka rok spannya. Pemandangan yang sangat
indah pembaca, Linda memakai CD kuning yang bergambar hati atau cinta.
"Ayo Om, jangan diliatin aja" "Ya.." jawab saya sambil mencium vaginanya
yang masih terbungkus CD kuningnya, jilatan demi jilatan membuatnya
geli hingga pinggulnya ke kiri ke kanan tak beraturan. "Uda.. Hh.. Om..
Buka aja.. Sst.. mmh.." katanya menyuruh saya membuka celana dalamnya.
Dengan dibantu Linda, saya membuka celana dalam beserta sok spannya
hingga ia tinggal mengenakan BH saja. Vaginanya yang ditumbuhi bulu
halus itu mengeluarkan aroma harum khas wanita, beberapa saat saya cium
dan jilat pada bagian dalam vaginanya. "Sst.. Arggh.. En.. Akk.. Om..
Nah gitu.. Sst" "Jil.. At.. Om.. Bagian yang itu.. Ya.. Sst.." pintanya
pada saya yang membuatnya sangat terangsang. Sambil menjilat seluruh
bagian vaginanya, tangan kanan saya masuk ke dalam BH-nya dan meremas
payudaranya dengan lembut dan kadang-kadang memelintir putingnya yang
sudah keras sekali. "Ayo.. Om.. Sst.. Linda.. Nggak.. tahan.. Nih.."
rintihnya memohon pada saya. Saya sudah mengerti maksudnya, Linda sudah
sangat terangsang sekali ingin melepaskan hasratnya dengan segera.
Kemudian saya berganti posisi dengan Linda saya pangku berhadapan dengan
saya sambil membuka penutup payudaranya itu. Maka kami berdua sudah
bugil di dalam mobil itu, untung saja keadaan bandara waktu itu belum
terlalu ramai karena kedatangan pesawat masih lama. "Pel.. Lan ya Om"
kata Linda sambil menggesek- gesekkan bibir vaginanya sebagai pemanasan
dulu. "Gimana Lin..?" "Udah Om, sekarang aja" ajak Linda sambil memegang
kontolku mengarahkannya pada lubang kemaluannya sambil saya juga
menyodoknya pelan, kemudian pada akhirnya bless.. masuklah semua kontol
saya. "Arg.. Sst.. Mmh.." rintih Linda karena masuknya kontol saya yang
kemudian maju mundur dengan lembut. Kontol saya serasa diremas-remas
dalam lubang kemaluan Linda yang masih sangat kencang sekali,
denyut-denyut yang menimbulkan rasa nikmat bagi saya dan tentunya juga
Linda yang menggerakkan pinggulnya ke kiri ke kanan meraih kenikmatannya
sendiri. "Om.. Sst.. kemot su.. sunya Linda.. Sst.. Mmh.." "Mmh..
Mmh.." Sambil menyodok vaginanya, saya menjilat, kadang mengulum kedua
payudaranya bergantian. Posisi itu menimbulkan bunyi yang saya tirukan
kira-kira ceplok.. ceplok.. Beradunya kontolku dalam vaginanya disertai
rintihan dan jeritan kecil dari Linda membuat saya ingin segera
memuntahkan lahar putih yang sudah dari tadi saya tahan. "Ce.. Peet..
Sst.. Om.. Linda.. Mau kelu.. Ar.. Sstss.. aahh.." celotehnya meminta
saya menyodoknya lebih cepat dan gerakan pinggulnya semakin cepat. "Ya..
Lin.. Ayo.." jawab saya dengan sodokan yang tak kalah cepatnya dengan
pinggulnya dan pada akhirnya muncratlah lahar itu secara bersamaan
crot.. crot.. crot.. "Argh.. Ahh.." jerit kecil Linda menyertai
muncratnya lahar itu. "Ahh.." kami berdua duduk dengan lemas dan puas
dalam mobil. "Trim's ya Lin" jawab saya sambil mencium keningnya.
"Sama-sama Om" jawab Linda sambil memeluk saya dengan erat. Malam itu
kami habiskan dengan makan malam dan sebelum pulang ke hotel, Linda
meminta sekali lagi 'pelajaran' pada saya di pinggir pantai Senggigi
yang berpasir putih dan dalam cahaya bulan yang bersinar terang tapi
tidak di dalam mobil. Sampai-sampai saya kewalahan menuruti berbagai
macam gaya yang ingin dicobanya. Saya baru tahu bahwa ternyata Linda
yang keturunan tionghoa yang masih ABG itu nafsu sexnya juga tinggi.
Selamat jalan Linda, semoga saja kamu puas jalan-jalan ke pulau Lombok.
Nanti kalau jadi study tour SMU-nya ke Lombok lagi, bilang Om Andi saja
ya, jangan lupa emailku, pasti akan kuantarkan teman-temannya juga.
***** Bagi pembaca wanita yang ingin jalan-jalan ke pulau Lombok dengan
pantai Senggigi yang berpasir putih dan ingin melihat Budaya Bali dan
lombok, bisa menghubungi saya via email, nanti saya antarkan kemana
saja, pokoknya ditanggung senang. Saya biasanya ke rental internet
membaca email pada hari Senin ? Rabu. Ini adalah pengalaman aktual tanpa
tambahan dan karangan yang berlebihan. TAMAT
DEMI SAHABAT
| 0 komentar
Pada suatu pagi aku menerima sepucuk surat.
Ternyata surat itu dari sahabatku Nasem yang tinggal di Manado. Isinya
dia mengundangku datang ke sana untuk berkangen-kangenan. Maklum telah
puluhan tahun kami terpisah jauh. Nasem di Minahasa, Sulawesi Utara dan
aku tetap di Malang, Jawa Timur. Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula
tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat
kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku. Yah, sesungguhnya
aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang
dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula.
Tak heran orang kampung menjuluki "Three Brothers". Cuma bedanya, Nasem
dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer
Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan
tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak
petani macam aku ini. Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis
Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus
pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem
tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku
terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih
memperhatikanku. Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang
disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang
dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu
orang sekaya Nasem? Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat
memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan
anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang
satu dua minggu. Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai
di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu
kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya
melambai-lambaikan tangan. "Nduutt.., Genduutt..!!" Teriak mereka. Nasem
masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa
kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid. Begitu turun
dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka
memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di
rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah
karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami
tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah
selama kami berpisah. Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam,
Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka
membicarakan soal "bantuan" itu. "Kira-kira apa yang bisa kubantu,
apakah mengerjakan rumahmu ini?" tanyaku. Kulirik, Nasem menggelengkan
kepala. "Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi
belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang
mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami
mengundangmu datang kemari," tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih
bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
"Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti
dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul.
Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya
anak," tuturnya lagi dengan jelas. "Hah.. apa? Aku harus menggantikan
dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu," tanyaku, penasaran. "Yah..
begitulah maksudku," jawabnya, membuat aku kian tak mengerti. "Lalu
dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini
bukan 'Deddy Coubuzier' atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan
permintaanmu itu Sem?" ucapku. "Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-
pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan
permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta
adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku,
untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas
tidak?" ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat
kebodohanku. "Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah
Sari menyetujuinya?" tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan
agar Nasem mengadopsi anak saja. Menurut mereka, semula memang berniat
untuk mengadopsi anak. "Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih
baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan
sayang?" ucap Nasem. "Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan
demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas
Ndut.." ucap Sari pelan. Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak
segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila
kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini
istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang
pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan
ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi
aku bisa membalasnya. Tapi Nasem terus mendesakku. "Yah.. bagaimana ini
ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?" kataku. "Sudahlah Ndut,
kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada
perasaan apa-apa atas bantuanmu," ucap Nasem meyakinkan. Aku pun tanpa
sadar berucap, "Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?" tanyaku.
"Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa
berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan," ucap Nasem dengan arif.
Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk
memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi
hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke
kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang
sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga
Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar,
meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar. "Sari, apakah kamu yakin aku
bakal bisa memberi anak nantinya..?" tanyaku. "Mas Ndut, secara pribadi
aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya." ucapnya manja.
"Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan 'mengobok-obok'
tubuhmu yang mulus itu." "Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi
keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu
Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap
bertempur Mas.." ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci. "Lho siapa
yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?" tanyaku, sembari
duduk di bibir ranjang. "Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut,"
jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan
agar rencana ini berjalan mulus. "Oh begitu!" ucapku. "Mas Ndut aku
sudah nggak tahan nich?" ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang
melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya
yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku
memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum
listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan
dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di
atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat.
Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku
yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu..
"Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring.." ucapnya sambil mendorong tubuh
telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan
tangan lembut Sari mulai beraksi. "Wah.. wahh.. besar sekali penismu,
Mas Ndut." tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras
tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke
mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat.
Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih
keenakan. "Ahh.. ahh.. ohh.." aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat
sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga
menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong
kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu.
Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di
situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka
semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan
badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak
bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari
mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh
montoknya. Ohh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku
tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah
istri sahabatku."Malaria"-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini
kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar
mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan
saja? Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku
masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari
kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya
nyaliku jadi ciut. Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku
ditegur Nasem. "Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami
katakan." ucapnya. Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini
tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya. Pukul 22.00 WITA,
Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, "Ayo Mas
Ndut kita tidur yuk," ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan
ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk
di tepi ranjang dan jari- jarinya yang lentik mulai memijat pundakku.
Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya
dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan
saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah
sementara tangan kami saling membelai dan mengusap. Kami masih duduk
berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup
leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia
menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung
menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera
menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka
aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. "Tunggu,
pelan-pelan saja Mas Ndut," bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku
di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan
kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan
pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin.
Tiba-tiba.. "Slepp.." masuklah penisku ke dalam sangkarnya. Aku mulai
menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir
kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari
mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya
mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus
kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.
Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat
sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak
bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya.
Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun. Selang beberapa saat,
Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti
sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang
dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama
semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya
berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan,
kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak
kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil
mengucapkan, "Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan
baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke
langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus
tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang
dari punya Nasem)". Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya
dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua
pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan- perlahan untuk
makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam
lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat- erat dan kami pun
berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak
dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu
bersambung dari bawah. Tak terasa 'pekerjaan' yang kulaksanakan ini
sudah menginjak malam ke dua belas. "Mas Ndut, sebenarnya menurut
perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu," kata Sari
pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin
istrinya hamil. Aku dimintanya 'bersabar' barang sepuluh hari atau dua
minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk
istriku dan anak-anakku. Hingga pada suatu hari, terhitung hampir
sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan.
Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil! "Oh
Ndut, istriku hamil!" katanya gembira. Kiranya 'pekerjaanku' tak
sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga
kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di
kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku
berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal.
Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi
ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk
keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu
aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung. Singkat cerita,
sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta
menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam
hati, aku merasa berdosa kepadanya. Delapan bulan kemudian aku menerima
surat dari Nasem bahwa 'anaknya' telah lahir, wanita, cantik lagi, dan
diberinya nama Ratih. "Ah syukurlah," gumamku. Begitulah yang terjadi.
Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal
yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana.
Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas
budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di
Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya. Mohon saran dan
tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala
usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman, langsung saja
hubungi saya via e- mail. TAMAT
Kenikmatan Yang Membingungkan
| 0 komentar
Ketika aku kembali dari kantor, kulihat
istriku sedang mengobrol dengan seorang wanita berumur kira-kira 29
tahunan, di sebelahnya ada gadis umurnya 13 tahun. Setelah kuletakan tas
kantor di kamar tidur aku ikut nimbrung mengobrol dengan istriku dan
tamunya yang aku ketahui wanita itu adalah calon
pembantu di rumah kami, dia seorang janda cerai dengan seorang anak
gadisnya. Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku
agak keberatan jika wanita itu mengajak anaknya untuk bekerja di rumah
kami yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah
kuyakinkan akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak
gadisnya bekerja sebagai pembantu di rumah kami, alasanku karena istriku
sedang sibuknya mengurus bisnis MLM-nya dan karena pernikahan kami yang
sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan, sehingga anak gadis itu bisa
kami anggap sebagai anak kami sendiri. Keesokan harinya sekitar jam 5:00
sore wanita itu dan anak gadisnya telah berada di rumahku untuk
melakukan tugas sebagai pembantu, sebut saja wanita itu Nursyfa dan anak
gadisnya Santi. Karena rajinnya kerja kedua pembantuku itu, maka Santi
kuijinkan untuk meneruskan sekolah atas tanggunganku. Kulihat di
wajahnya tersenyum kegirangan. "Terima kasih Pak, Santi senang sekali
bisa meneruskan sekolah, terima kasih Pak, Bu." "Ya, tapi kamu harus
rajin belajar, dan kalau sudah pulang sekolah kamu harus bantu ibumu,"
kata istriku sambil berpelukan dengan Santi, kulihat di wajah ibunya
Nursyifa pun terlihat keceriaan. Enam bulan berlalu sejak Nursyifa dan
Santi bekerja di rumah kami, aku berbuat mesum dengan Nursyifa sewaktu
istriku pergi keluar kota untuk urusan bisnis MLM-nya. Hari itu hari
Sabtu, malamnya istriku ke Jogja dengan kereta api, karena Sabtu kantor
libur sementara Santi sedang sekolah, aku melihat Nursyifa yang sedang
berdiri di dapur membelakangi aku yang sedang masuk dapur selesai
mencuci mobil. Aku tertegun melihat tubuh Nur yang mengunakan baju
terusan warna hijau muda agak tipis sehingga terbayanglah tali BH dan
celana dalam yang keduanya berwarna hitam menutupi bagian vitalnya.
Pantatnya yang padat dan seksi serta betisnya yang terbungkus kulit
putih dan mulus bentuknya seperti bunting padi, membuat aku merasa
tersedak seakan-akan ludahku tidak bisa tertelan karena membayangi tubuh
Nur yang indah itu. Tiba-tiba Nur berbalik dan kaget melihatku yang
baru saja membayanginya. "Eh.. Bapak, ngagetin saya aja." "Eh.. Nur
boleh saya duduk, saya mau tau kenapa kamu cerai, kamu mau
menceritakannya ke saya." "Eng.. gimana yach.. saya malu Pak, tapi
bolehlah." Akhirnya aku duduk di meja makan sementara Nur menceritakan
sejarah hidupnya sambil terus bekerja mempersiapkan makan siang untukku.
Akhirnya aku baru tahu kalau Nur itu menikah di usia 15 tahun dan
setahun kemudian dia melahirkan Santi dan dia bercerai 2 tahun yang lalu
karena suaminya yang suka mabuk, judi, main perempuan dan suka
memukulinya dan pernah hampir membunuhnya dimana di punggung Nur ada
bekas tusukan pisau. Aku tertegun mendengar ceritanya sementara Nur
seakan mau menangis membayangi jalan hidupnya kulihat itu di matanya
sewaktu dia bercerita. Karena rasa kasihanku kurangkul tubuh Nur.
"Sudah, Nur.. jangan nangis.. sekarang kamu sudah bisa hidup tenangan di
sini bersama anakmu, lupakan masa lalumu yah.. saya minta maaf kalau
membuat kamu harus mengingat lagi." "Iya.. Pak.. saya dan Santi..
berterima kasih sekali.. Bapak dan Ibu baik.. pada kami." "Ya.. sudah..
sudah.. jangan nangis terus.. nanti Santi pulang.. kamu malu deh.. kalau
lagi nangis." Nur menangis dalam rangkulanku, air matanya membasahi
kausku tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain karena kedua
payudaranya menyentuh dadaku yang membuat gejolak nafsuku meningkat.
Tanpa sengaja bibir mungilnya kucium lembut dengan bibirku yang membuat
dirinya gelagapan. "Aaahh.. Bapak!" Tapi kemudian dia membalas kecupanku
dengan lembut sekali diikuti lidahnya memainkan lidahku yang membuat
aku makin berani. "Pak.. sshh.." "Kenapa.. Nur..?" "Tidak.. Pak.. aahh..
tidak apa-apa." Kuangkat roknya dan aku meraba pantatnya yang padat
lalu kutarik ke bawah celana dalam warna hitam miliknya sampai dengkul,
pahanya kuraba dengan lembut sampai vaginanya tersentuh. Nur mulai
bergelinjang, dia membalas dengan agresif leher dan pipiku diciuminya.
Kumainkan jariku pada vaginanya, kutusuk vaginanya dengan jari tengah
dan telunjukku hingga agak basah. "Aahh.. Pak, enak sekali deh.." "Nur..
kalau kita lanjutkan di kamar yuk!" "Saya sih mau aja Pak, tapi kalau
nanti Ibu tahu gimana?" "Ah, ibu khan lagi ke Jogja, lagi pulangnya kan
hari Selasa." Kugiring Nursyifa ke kamarku, sampai di kamar kututup
pintu dan langsung kusuruh Nur untukmenanggalkan pakaiannya. Nur
langsung menuruti keinginanku, seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga
dia bugil. Yang agak mengagetkanku karena keindahan tubuh Nur. Nur
dengan tinggi sekitar 167 cm memiliki payudara yang kencang dan montok
dibungkus kulit yang putih bersih, pinggulNur agak kurus tapi pantatnya
yang agak besar dan padat dan vaginanya yang ditutupi bulu halus agak
lebat membuat aku seakan tidak bisa menelan ludahku. Kalau aku beri
nilai tubuh Nur nilainya 9.9, hampir sempurna. "Bapak, baju Bapak juga
dilepas dong, jangan bengong melihat tubuh Nur." "Nur, tubuhmu indah
sekali, lebih indah dari tubuhnya Ibu." "Ah, masa sih Pak?" "Iya Nur,
tahu gitu kamu saja yang jadi Ibu deh." "Ah Bapak bisa aja nih, tapi
kalau Nur jadi Ibu, Nur mau kok jadi ibu ke dua." Aku langsung
menanggalkan pakaianku dan batang kemaluanku langsung menegang keras dan
panjang.Kuhampiri Nur langsung kucium bibirnya, dipeluknya diriku,
tangan mungil Nur meraba-raba batang kemaluanku lalu dikocoknya, liang
vaginanya kusentuh dan kutusuk dengan jariku, kami bergelinjang
bersamaan. Kami menjatuhkan diri kami bersamaan ke tempat tidur. "Nur,
kamu mau nggak hisap kontol saya, saya jilatin vaginamu." Nur hanya
mengangguk lalu kami ambil posisiseperti angka 69. Batang kemaluanku
sudah digenggam oleh tangannya lalu dijilat, dikulum dan disedot sambil
sesekali dikocoknya. Liang vaginanya sudah kujilati dengan lembutnya,
vaginanya mengeluarkan bau harum yang wangi, sementara rasanya agak
manis terlebih ketika bijiklitorisnya terjilat. Hampir 10 menit lamanya
ketika keluar cairan putih kental membasahi liang vagina itu dan
langsung kutelan habis. "Aaakkhh.. aakkhh.." rintih Nur kelojotan. Tapi
lima menit kemudian giliranku yang kelojotan karena keluarlah cairan
dari batang kemaluanku membasahi muka Nur tapi dengan sigap dia langsung
menelannya hingga habis lalu "helm" dan batangku dibersihkan
denganlidahnya. Setelah itu, aku merubah posisi, aku berbaring sedangkan
Nur kusuruh naik dan jongkokdi selangkanganku. Lalu tangannya menggapai
batang kemaluanku diarahkannya ke liang vaginanya. Tapi karena liang
vagina Nur yang sudah lama tidak dimasukan sesuatu jadi agak sempit
sehinggaaku bantu dengan beberapa kali sodokkan, baru vagina itu
tertembus batang kemaluanku. "Blleess.. jlebb.. jlebb.." Kulihat Nur
agak menahan nafas karena batangku yang besar dan panjang telah menembus
vaginanya. "Heekkh.. heekkhh.. punya Bapak gede banget sih Pak, tapi
Nur suka deh rasanya sodokannya sampai perut Nur." Tubuh Nur
dinaik-turunkan dan sesekali berputar, sewaktu berputar aku merasakan
kenikmatan yang luar biasa. "Nur, vaginamu enak sekali, batangku kayak
diperas-peras oleh vaginamu, terus terang Bapak barukali ini
merasakannya, Nur enak sekali." Setengah jam kemudian, aku merubah
posisi dengan batang kemaluanku masih di dalam vagina Nur, aku duduk dan
kuangkat tubuhnya lalu kubaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dengan
kaki Nur menggantung, kutindih tubuhnya sehingga membuat sodokan
batangku jadi lebih terasa ke dalam lagi masuk vaginanya. "Aakkhh..
aakkhh, iya Pak enakan gaya gini." Payudaranya yang mancung dan puting
yang agak kecoklatan sudah kucium, kuremas dan kusedot-sedot. 15 menit
kemudian kami ganti posisi lagi, kali ini kami berposisi doggie style,
liang vaginanya kusodok oleh batang kemaluanku dari belakang, Nur
menungging aku berdiri. Kuhentak batanganku masuk lebih dalam lagi ke
vagina Nur yang hampir 15 menit kemudian Nur menjerit. "Akhh.. arghh..
sshh.. sshh.. Pak, Nur keluar nih.. akhh.. sshh.." Keluarlah cairan dari
vagina Nur yang membasahi dinding vaginanya dan batang kemaluanku yang
masih terbenam di dalamnya sehingga vagina itu agak licin, tetapi tetap
kusodok lebih keras lagi hingga 10 menit kemudian aku pun berasa ingin
menembakkan cairan dari kemaluanku. "Nur.. saya juga mau keluar nih,
saya nggak tahan nich.." " Pak.. tolong keluarin di dalam saja yach..
saya mau cobain kehangatan cairan Bapak, dan saya kan siap jadi ibu ke
dua." "Crroott.. croott.. crroott.." Keluarlah cairanku membasahi liang
vagina Nur, karena banyaknya cairanku hingga luber dan menetes ke paha
Nur. Lalu kulepaskan batangku dari vaginanya dan kami langsung terbaring
lemas tak berdaya di tempat tidurku. Lima menit kemudian yang
sebenarnya kami ingin istirahat, aku mendengar suara dari luar
kamartidurku kami tersentak kaget. Setelah berpakaian kusuruh Nur keluar
kamarku yang rupanya Santi ada di ruang makan, ia mencari- cari ibunya
setelah pulang dari sekolah. Malam harinya setelah Santi tertidur, Nur
kembali masuk kamarku untuk bermain lagi denganku.Keesokan harinya,
setelah aku terbangun kira-kira jam 8:00, aku keluar kamar, aku
mencariNur, tapi yang aku temukan hanya Santi yang sedang menonton TV.
Rupanya aku baru ingat kalau setiap Minggu pagi Nur pergi berbelanja ke
pasar. Setelah mandi kutemani Santi yang lagi duduk di karpet sambil
nonton TV, sedangkan aku duduk di sofa. "Santi.. gimana sekolah kamu..?"
"Baik.. Pak, bulan depan mau ulangan umum." "Mmm, ya sudah kamu belajar
yang rajin yah, biar Ibu kamu bangga." "Pak, boleh Santi tanya?" "Iya,
kenapa Santi..?" "Kemarin ketika Santi pulang sekolah, Santi kan cari
ibu Santi, pas buka kamar Bapak, Santi melihat Bapak dan ibu Santi lagi
telanjang terus Santi lihat kalau Ibu Santi ditusuk dari belakang oleh
Bapak, ada sesuatu punya Bapak yang masuk ke badan ibu Santi, maaf yach
Pak, Santi lancang. Mama Nur lagi diapain sih sama Bapak?" "Hah, jadi
kamu sempat melihat ibumu telanjang." "Iya Pak, tapi kok Mama Nur
kayaknya keenakan ya. Santi jadi kepingin dech Pak kayak ibu Santi."
"Kamu serius San, kamu mau?" "Iya Pak." Kulihat Santi tersipu malu
menjawab pertanyaan dariku, sementara rok Santi tersingkap
sewaktu duduknya bergeser sehingga pahanya yang putih mulus terlihat oleh
mataku yang membuatku langsung terangsang. Kusuruh Santi duduk
dipangkuanku. "San, sini kamu duduk di pangkuan Bapak." Ketika dia
berdiri menujuku, aku membuka resleting celanaku dan kuturunkan celana
dalamku lalu aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah menegang,
sebelum Santi duduk di pangkuanku, celana dalamnya yang putih kuturunkan
sehingga vagina mungil putih bersih milikgadis 13 tahun ini ada di
hadapanku, menyerbakan aroma wangi dari vaginanya yang ditutupi
bulu-bulu halus dan langsung kujilat dengan lembutnya. Santi memegang
kepalaku dan tubuhnya menggeliat. "Aahh.. sshh.. enak.. Pak.. enak..
sekali." Vagina Santi yang masih muda itu terus kujilati karena rasanya
manis-manis asin. Santi punmakin menggelinjang, kira-kira 15 menit
kemudian Santi mulai kejang-kejang dan basahlah vagina itu oleh cairan
putih kental yang mengalir dari dalamnya, cairan itu kutelan habis.
"Arghh.. arghh.. Pak.. ada yang keluar nih dari tempat pipis Santi..
eugh.. eugh.." Tubuh Santi langsung lemas tak berdaya, cepat- cepat
kupangku. Batang kemaluanku yang mengeraskutempelkan pada vaginanya yang
basah. Tubuhnya kuarahkan menghadapku, kemeja yang dikenakan Santi
kulepas sehingga dia hanya mengenakan baju dalam yang tipis, payudara
Santi yang baru tumbuh terbayang di balik baju dalamnya, segera
kulepaskan sehingga di mukaku terpampang payudara yang baru mekar
ditutupi kulit yang putih bersih dengan dihiasi puting agak kemerahan,
langsung kulahap dengan mulutku, kujilat, kugigit dan kuhisap membuat
payudara itu makin mekar dan putingnya mengeras. Sementara Santi masih
tertidur lemas, batang kemaluanku yang sudahmenempel di vagina Santi
yang masih sempit kusodok-sodokkan agar masuk, karena vagina itu masih
sempit. kumasukkan dua jariku untuk membuka vagina itu, kuputar kedua
jariku sehingga vagina itu agak melebar dan basah. Setelah itu kucoba
lagi dengan batang kemaluanku, kusodok masuk batanganku ke vagina Santi
yang memang masih sempit juga walau sudah dibantu dengan jariku.
Akhirnya setelah 20 kali kutekan, masuklah helm batanganku ke vagina
Santi. Santi mulai tersadar ketika batanganku menyodokvaginanya, dia pun
menjerit kesakitan. "Aawww.. aawww.. sshh.. sshh.. aawww.. sakit..
Pak.. tempat pipis Santi.. sakit awww.. aawww.." "Sabar sayang nanti
juga enak.. sayang.. tahan ya.. sakitnya.. sebentar lagi.." Kupeluk
tubuh Santi dan menenangkannya dari rasa sakit pada vaginanya yang robek
oleh batangkemaluan milikku yang memang super besar. Sodokkanku pada
vagina Santi kupelankan untuk mencegah rasa sakitnya dan 10 menit
kemudian Santi merasakan kenikmatan. "Ahh.. ahh.. arghh.. arghh.. Pak..
sekarang tidak sakit lagi.. sekarang jadi enak.. aahh.. aahh.." Hampir
setengah jam kemudian tiba-tiba Santi mengeluarkan cairan dari dalam
vaginanya berikut tetesan darah dan langsung tubuh Santi lemas lagi dan
pingsan. Aku menyadari bahwa aku telah membobol keperawanan Santi.
"Arrgghh.. Pak.. Santi.. lemmaass.." Aku agak kaget juga melihat keadaan
Santi yang secara tidak sengaja kubobol keperawanannya tapi karena
sudah tanggung terus kugenjot batanganku ke vagina Santi yang sudah
berdarah dan 10 menit kemudian keluarlah cairan dari dalam kemaluanku
dengan derasnya memasuki liang vagina Santi hingga meluber ke pahaku.
"Crroot.. crroott.." "Ssshh.. sshh.. aahh.. nikmatnya.. vagina.. gadis
ini.." Langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Santi dan
kubaringkan Santi yang pingsan di Sofa. Sisa cairan yang masih melekat
di vagina Santi kulap dengan bajuku hingga bersih, sesudah itu
kurapihkan baju Santi dan kubiarkan Santi yang masih pingsan tidur di
Sofa, aku lalu membersihkan badanku sendiri. Sepuluh menit kemudian
Nursyifa, datang dari pasar sedangkan aku sudah memakai baju lagi.
Sejaksaat itu aku bermain dengan istriku jika dia di rumah, dengan Nur
jika istriku pergi dan Santi sekolah, dengan Santi jika istriku dan Nur
pergi. Aku lakukan sudah hampir 3 bulan lamanya merasakan kenikmatan
dari tiga perempuan di dalam rumahku, tapi sekarang aku sedang bingung
sebab 2 bulan yang lalu akhirnya istriku mendapat berkah bahwa dia hamil
1 bulan, 1 bulan yang lalu giliran Nur yang kuketahui bahwa dia hamil 1
bulan juga, sekarang 2 minggu yang lalu setelah kuajak Santi periksa ke
dokter dia sudah hamil 1 bulan juga. Duuhh.. pusingnya aku! Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)